Tuesday, January 3

Banjir Bandang dan Longsor di Jember

BANJIR DAN LONGSOR KEMBALI MENERJANG JATIM
Oleh Didik Kusbiantoro



Surabaya, 2/1 (ANTARA) - Mendung duka kembali menyelimuti wilayah Jawa Timur, menyusul bencana banjir bandang disertai tanah longsor yang menerjang sejumlah desa di wilayah Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin.

Peristiwa yang didahului hujan deras selama dua hari mulai Sabtu (31/12) hingga Minggu (1/1) itu mengakibatkan lebih dari 30 warga setempat tewas dan puluhan lainnya luka-luka serta ratusan rumah dan bangunan rusak dan hanyut. Kerugian akibat bencana di pembuka tahun baru 2006 itu diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Hingga saat ini, anggota tim Save And Rescue (SAR), Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) Penanggulangan Bencana, regu penolong, dan warga masih terus melakukan upaya pencarian terhadap kemungkinan masih banyaknya korban yang belum ditemukan.

Data terakhir yang dihimpun wartawan ANTARA dari posko bencana di Kecamatan Panti menyebutkan hingga Senin malam, jumlah korban yang sudah ditemukan mencapai 34 orang. Jumlah itu kemungkinan masih akan bertambah karena banyak korban belum ditemukan. Wilayah yang menjadi korban bencana di antaranya Desa Kemiri, Sudji, Panti, Gelagah Wero, dan Pakis.

Musibah banjir dan longsor itu terjadi akibat luapan Sungai Kaliputih yang tidak mampu menampung tingginya curah hujan selama dua hari terakhir. Kondisi hutan di sekitar lokasi kejadian yang gundul juga menjadi salah satu faktor penyebab musibah tersebut.

Peristiwa banjir bandang dan longsor di Jember mengingatkan kita kepada musibah serupa yang pernah berlangsung di Kabupaten Mojokerto pada pada 2003, yang juga mengakibatkan sejumlah warga tewas serta kerusakan harta benda milik penduduk. Setahun sebelumnya di kolam pemandian air panas di Padusan, Pacet, Mojokerto, juga terjadi banjir bandang dan longsor yang merenggut 24 nyawa manusia.

Kemudian pada 2004, banjir bandang kembali menerjang wilayah Blitar Selatan. Menelan korban jiwa sebanyak 16 orang dan ribuan hektare sawah rusak serta kerugian harga benda lainnya.

Sebelum peristiwa di Kecamatan Panti Jember, sebenarnya musibah banjir dan longsor juga terjadi di sejumlah daerah di Jatim, seperti di Babat Lamongan dan Banyuwangi. Di dua lokasi bencana ini, sejumlah warga juga menjadi korban.

Para pejabat daerah setempat menyebutkan rentetan musibah banjir dan longsor tersebut akibat tingginya curah hujan yang turun pada musim ini, sementara kondisi lingkungan atau hutan di wilayah musibah juga tidak mendukung alias rusak.

"Kondisi hutan yang gundul akibat pembalakan liar ('illegal logging') beberapa tahun lalu tidak mampu menyerap curah hujan yang tinggi," kata Bupati Jember, Ir MZA Djalal kepada wartawan saat meninjau lokasi musibah.

Beri Peringatan

Beberapa aktivis lingkungan sebenarnya sudah memberikan peringatan soal kemungkinan terjadinya bencana banjir dan longsor di seluruh kabupaten/kota di Jatim. Faktor penyebabnya adalah daya dukung lingkungan yang sudah sangat rapuh, termasuk parahnya kondisi daerah aliran sungai sebagai daerah resapan air.

"Hampir semua kabupaten/kota di Jawa Timur rawan terhadap terjadinya bencana banjir dan tanah longsor pada musim penghujan seperti saat ini. Hal itu tidak lain karena makin rapuhnya daya dukung lingkungan dan daerah aliran sungai," kata anggota Dewan Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Syafruddin Ngulma Simeulue.

Menurut ia, bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di sejumlah daerah beberapa waktu terakhir, bukan semata-mata disebabkan kondisi cuaca yang ekstrem dan meningkatnya curah hujan.

"Sejak awal Desember 2005 curah hujan dan angin memang meningkat, tapi masih dalam batas yang normal. Kalau akhir-akhir ini beberapa daerah dilanda banjir atau terjadi longsor, jangan buru-buru menuding cuaca atau iklim global, tapi karena memang daya dukung lingkungan sudah rapuh," katanya.

Daya dukung lingkungan yang dalam hal ini terkait langsung dengan kondisi hutan atau daerah aliran sungai sangat berperan sebagai daerah tangkapan air. Apabila ada satu daerah tiba-tiba diterjang banjir, padahal sebelumnya jarang atau tidak pernah terjadi, maka banjir atau longsor itu adalah "suara alam" yang memberitahu kondisi hutan dan daerah aliran sungai di kawasan itu bahwa kondisinya sudah parah.

Dalam laporan akhir 2005 yang dilansir Walhi Jatim disebutkan saat ini lebih kurang 660.000-700.000 hektare atau sekitar 50 persen dari total areal hutan yang ada di Jatim kondisinya rusak parah akibat kasus 'illegal logging' dan kebakaran. Dari jumlah itu, sekitar 500.000 hektare berada di kawasan hutan lindung dan 160.000 hektare sisanya berada di kawasan hutan Perhutani.

"Kalau ekosistem hutan di lereng-lereng gunung dan DAS tidak terganggu, curah hujan yang lebat dan lama sekalipun, tidak akan menimbulkan banjir atau longsor yang berakibat fatal, karena semua air terserap dan terkendali secara alamiah," katanya.

Musibah banjir atau longsor yang terjadi beberapa waktu terakhir--sebelum musibah di Kecamatan Panti Jember--sebenarnya merupakan isyarat bahwa banjir atau longsor yang lebih dahsyat akan segera menyusul.

"Mestinya hal itu dijadikan 'early warning system' (sistem peringatan dini) untuk mengantisipasi bencana banjir atau longsor yang lebih dahsyat, tapi nyatanya tidak dipahami pemerintah daerah," ujar Syafruddin.

Sementara itu, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak Surabaya memperkirakan curah hujan tinggi diserta angin kencang masih akan terjadi di wilayah Pantai Timur dan kawasan lain di Jatim. Dengan demikian, musibah banjir dan longsor (otomatis) masih akan mengancam kabupaten/kota di Jatim.

Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Ridho Syaiful Ashadi menyesalkan lemahnya manajemen penanganan bencana yang dimiliki pemerintah daerah sehingga korban jiwa akibat musibah banjir dan longsor terus berjatuhan.

Ridho mengingatkan bupati/walikota di Jatim untuk segera melakukan pemetaan wilayah potensi rawan bencana dan menyiapkan langkah antisipasi untuk menghindari resiko jatuhnya korban saat terjadi musibah banjir dan longsor di daerahnya pada masa mendatang.

(T.D010/B/K002/K002) 03-01-2006 00:04:09

KORBAN BANJIR DI JEMBER TERBESAR DALAM LIMA TAHUN TERAKHIR DI JATIM


Surabaya, 3/1 (ANTARA) - Korban banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Jember yang hingga kini menelan 62 jiwa dan ratusan rumah serta bangunan rusak, merupakan korban terbesar dalam musibah serupa yang pernah terjadi di wilayah Jawa Timur dalam lima tahun terakhir.

Data yang dihimpun ANTARA dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jatim di Surabaya, Selasa, menyebutkan musibah banjir bandang dan longsor pernah terjadi di beberapa daerah di Jatim sejak tahun 2000 hingga 2004 dengan jumlah korban jiwa dan harga benda cukup besar.

Pada tahun 2000, banjir bandang terjadi di wilayah Kabupaten Situbondo dengan menelan korban jiwa sekitar 15 orang, menghancurkan ratusan rumah dan ribuan hektar sawah gagal panen. Musibah itu mengakibatkan aktivitas perkotaan dan jalan jalur luar kota terendam lumpur selama satu minggu.

Musibah banjir bandang dan longsor berikutnya terjadi di obyek wisata Pemandian Air Panas Wanawisata Padusan Pacet, Mojokerto, pada akhir 2002, yang menewaskan sebanyak 24 jiwa dan dua orang dinyatakan hilang. Selain itu, puluhan orang pengunjung obyek wisata tersebut mengalami luka berat dan ringan.

Pada tahun yang sama, musibah banjir bandang menerjang wilayah Malang Selatan yang mengakibatkan sedikitnya sepuluh meninggal dan ribuan hektare sawah gagal panen.

Peristiwa banjir bandang dan tanah longsor belum berhenti dan kembali terjadi pada tahun 2003 di wilayah Mojokerto, Malang dan Tulungagung. Dilaporkan sedikitnya tiga korban meninggal dan kerugian harga benda dalam jumlah besar.

Setahun kemudian (tahun 2004), giliran wilayah Blitar Selatan yang dilanda bencana dengan korban meninggal dilaporkan sebanyak 16 jiwa.

Direktur Eksekutif Walhi Jatim, Ridho Syaiful Ashadi kepada ANTARA menjelaskan selain banjir bandang dan tanah longsor, musibah banjir melanda hampir sebagian besar daerah di Jatim dan mengakibatkan kerugian cukup besar bagi masyarakat.

"Apa yang terjadi di Kabupaten Jember sebenarnya merupakan rentetan dari kejadian di beberapa daerah sebelumnya. Kondisi lingkungan yang sudah rusak, terutama hutan di Jatim membuat hampir semua daerah rawan terhadap bencana," ujarnya.

Ia menambahkan, dari sekitar 1,45 juta hektar areal hutan di Jatim, lebih kurang 700.000 hektare diantaranya (hampir 50 persen) dalam kondisi rusak berat, akibat pembalakan liar ("illegal logging"), kebakaran, dan lainnya.

"Dibanding luas daratan, luas hutan di Jatim sebenarnya belum ideal karena baru mencapai 28,4 persen dari seharusnya 30 persen. Persoalannya, dari mana mendapatkan luas hutan yang ideal, sementara laju kerusakan hutan setiap tahun mencapai 30 persen," tambahnya.

Mengenai langkah antisipasi bencana serupa di daerah lain, Syaiful meminta pemerintah daerah segera menyiapkan langkah-langkah jangka pendek dan panjang, yang semuanya mengarah pada penciptaan manajemen bencana terpadu, seperti pencegahan, penanganan darurat dan rehabilitasi.

"Yang paling mendesak saat ini adalah melakukan koordinasi dengan BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) untuk mengetahui kondisi cuaca, membuat peta daerah rawan bencana dan menginformasikan kepada masyarakat," demikian Syaiful.

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home